Bila si Kecil di Usia Emas...


Bagi sebuah keluarga, anak adalah segalanya, coba kita bayangkan jika setelah menikah si anak tidak kunjung hadir, pastilah resah dan gelisah yang dirasakan. Berbagai cara alternatif untuk segera membuatnya hadir akan dicoba, bahkan ada yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Tangisnya, tawanya, keceriannya seakan-akan itulah yang membuat rumah menjadi hidup. Ayah dan Ibu pun akan siap berkorban apa saja demi kebahagiaan seorang anak. 

Orang tua akan selalu berusaha menjadi orang terdepan yang akan melindunginya. Terkadang apapun yang diminta oleh anak, meskipun itu diluar kemampuan, orang tua berusaha untuk mewujudkannya. Ibarat malaikat Roqib dan Atid yang selalu mendampingi 24 jam apapun aktivitas manusia. Kita ambil contoh, ketika melihat anak kesulitan membuka bungkus permen maka secara otomatis sang Ibu bilang “sini ibu bukakan”, ketika melihat anak kesulitan mengancingkan baju seragam sekolahnya sang Ibu bilang “Sini ibu bantu, biar cepat”, atau ketika Ayah melihat anak kesulitan memasang roda mobilnya yang lepas maka sang Ayah akan bilang “mana Ayah betulkan”. Secara tidak langsung Ayah dan Ibu akan selalu tampil untuk menjadi “Hero” bagi anak-anaknya dan itu suatu hal yang alami sekali. 

Tapi, pernahkah kita bayangkan jika kebiasaan itu kita bangun sejak kecil dan sudah terpatri dalam diri anak, anak akan sangat tergantung pada orang tuanya. Anak akan berkembang menjadi pribadi yang tidak mandiri kalo tidak boleh dikatakan manja. Bisa jadi setiap kali ada masalah kecil taupun besar dia akan minta pertolongan orang tuanya. Kemudian yang menjadi pertanyaan, bagaimana kalo tiba-tiba malaikat Izroil datang untuk menunaikan tugasnya kepada kita, sehingga kita tidak lagi bisa menjadi pelindung dan penolong bagi anak-anak kita. Mungkinkah anak-anak bisa tegar menghadapinya, tabah dan ikhlas? Ataukah anak-anak menjadi putus asa, kehilangan arah dan terpuruk?

Kalo sudah terlanjur, maka apa yang harus orang tua lakukan? Apa yang dilakukan Ali bin Abi Tholib generasi ke empat dari Khulafaur Rasyidin bisa kita jadikan rujukan. Beliau adalah sahabat Nabi Muhammad yang diberi julukan “gerbangnya ilmu” karena saking luasnya ilmu beliau. Ali bin abi Tholib dalam mendidik anaknya membagi usia anak menjadi 3 masa. Yaitu masa tujuh tahun pertama, tujuh tahun kedua, dan tujuh tahun ketiga. Kemudian mari kita bahas satu per satu.

Masa tujuh tahun pertama yaitu usia 0 – 7 tahun, masyarakat sekarang lebih familiar dengan menyebutnya sebagai golden age, dimana masa pertumbuhan anak lagi pesat-pesatnya, rasa ingin tahu yang besar dan masih membutuhkan perhatian ekstra. Di masa inilah anak di posisikan sebagai prince/princes, semua kebutuhan dilayani oleh orang tuanya. Namun bukan berarti memenuhi semua keinginannya tanpa memilih dan memilahnya. Disini kita mengajaknya belajar empati dan berbagi. Sehingga dia bisa tumbuh sebagai anak yang berjiwa besar.

Masa tujuh tahun kedua yaitu usia 8 – 14 tahun, persiapan anak akil baligh dan memasuki dunia remaja. Di usia ini keinginan anak untuk mencoba suatu hal yang baru sangat besar. Apalagi sekarang dunia internet sangat mudah sekali di gunakan, ibaratnya tinggal menggerakan jari semua informasi sudah ada di depan mata. Disini orang tua tidak bisa lagi memposisikan sebagai penjaga atau menjadi polisi bagi anak-anak. Sekali salah langkah maka anak akan menjaga jarak. Pada masa ini, posisikan anak sebagi sahabat atau teman baik. Libatkan dia pada setiap aktivitas, misalkan, ajak anak untuk membantu memasak, membantu menservis motor, membantu menjaga adik. Sebagai gantinya, siapkan diri kita sebagai pendengar yang baik atas semua kisah anak dengan teman-temannya, jadikan diri kita sebagai teman belajar yang menyenangkan, teman bermain yang seru. Kita bisa mengajaknya bersama untuk membuat jadwal kegiatan didalam dan diluar rumah. Dengan begitu anak tidak akan sibuk mencari orang yang bisa dipercaya diluar sana, dan tidak menyibukkan diri dengan game on line, atupun fitur-fitur keren di gadgetnya. Karena dunia nyata akan sangat menyenangkan baginya. 

Masa tujuh tahun ke tiga yaitu usia 15 – 21 tahun, pada usia ini anak-anak sudah baligh, akalnya sudah sempurna, dan dia siap memikul sebuah tanggung jawab. Maka disini anak sudah waktunya untuk diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin. Tanamkan jiwa kepemimpinan dalam dirinya dan berikan dia tanggung jawab. Kita pahamkan ke anak bahwa ketika dia sudah baligh maka setiap aktivitas akan dipertanggungjawabkan, sehingga setiap apa yang kita lakkukan harus dipikirkan dulu, tidak esay going atau semau gue.    

Jangan lupa bagi orang tua bahwa ketiga tahapan tadi harus didasari dengan pondasi yang kuat. Apa itu? Yaitun aqidah yang harus tertancap dalam dada. Tidak semuanya akan berjalan lurus-lurus saja, bisa dipastikan masalah itu pasti ada. Jadi keika masalah itu datang, entah dari orang tua atau dari anak, maka bisa segera dicari solusinya, karena masing-masing punya aqidah dan pemahaman yang sama.

Jadi, peran keluarga khususnya orang tua sangat menentukan bagaimana perkembangan anak selanjutnya. Jadi orang tua tidak harus pintar ataupun berpendidikan tinggi, tapi dia harus paham bagaimana memposisikan anak, mendidiknya dengan tahapan yang pas, dan paham bagaimana harus memperlakukan anak. Karena ditangannya lah generasi bangsa ini ditempa. [VM]

Oleh : Endah Sulistiowati, SP (Praktisi Pendidikan)

Belum ada Komentar untuk "Bila si Kecil di Usia Emas..."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel