Toleransi “Mengesankan” yang Kelewatan


Sikap saling menghormati dan toleransi orang Indonesia memang sangat “mengesankan”. Bahkan saking “mengesankan” nya, sampai-sampai mereka yang mayoritas muslim ikut-ikutan merayakan hari besar agama lain. Sebagai contoh, perayaan Natal tiap tahunnya dirayakan semua masyarakat, baik Nasrani maupun non-Nasrani. Padahal Natal jelas-jelas ajaran agama Kristen dan kita sebagai muslim dilarang untuk berpartisipasi merayakannya, baik sekadar memberi ucapan selamat atau memakai atribut khas Natal, seperti topi santa atau pernak-pernik berwarna khas Natal. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mengikuti suatu kaum maka dia termasuk mereka”.

Namun kenapa hal ini bisa terjadi? Ini terjadi karena masyarakat tidak mengetahui dan tidak paham hukum Islam secara utuh. Mereka hanya melihat fakta yang ada, tapi fakta sekarang adalah salah karena memberi gambaran contoh yang salah. Sementara banyak ulama dan tokoh masyarakat yang juga tidak memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat dan bahkan memberi contoh yang salah dan tidak sesuai dengan Islam.

Makna toleransi atau tasamuh dalam kamus al-munawwir adalah sikap membiarkan (menghargai), lapang dada. Jadi, Seharusnya sikap toleransi terhadap agama lain adalah cukup dengan membiarkan mereka beribadah sesuai keyakinan dan cara mereka, menjamin keamanan mereka dan menjaga ketertiban sosial bersama, bukannya kita mlah ikut-ikutan seperti mereka. 

“Untukmu agamamu, untukku agamaku”. Tentu kita tidak ingin mendapatkan dosa dan tidak dianggap sebagai bagaian dari ummat Nabi Muhammad hanya karena hal sepele, yaitu ikut merayakan Natal bersama. Bukan begitu??? [Ima Rosalina (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab IAIN Tulungagung)] [MM]

Belum ada Komentar untuk "Toleransi “Mengesankan” yang Kelewatan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel