Tak Ada Perisai bagi Perempuan dan Anak dalam Negara Kapitalis Liberalis


Sistem politik demokrasi yang berlandaskan ideologi kapitalisme telah diadopsi Indonesia sejak puluhan tahun silam. Sistem yang dipropagandakan oleh Negara kafir imperialis ini memaksa kaum muslimin untuk membebaskan diri dari otoritas agama dengan dalih kemajuan dan modernitas. Ideologi kapitalisme – liberalisme dengan tegas menyatakan bahwa agama harus steril dari pengaturan ranah publik (masyarakat dan Negara). Agama hanya boleh mengatur urusan individu di ranah domestik (privat). Pengaturan di ranah publik harus diserahkan pada hukum yang dibuat oleh manusia.

Ketika hukum buatan manusia dipaksaskan diterapkan untuk mengatur kehidupan, yang muncul adalah derita umat yang tak berkesudahan. Segala bentuk keburukan muncul tiap harinya tanpa henti. Kondisi di negeri ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan Negara asal Kapitalisme itu sendiri yaitu Barat. Maka, senyatanya kapitalisme telah membawa derita bagi umat manusia di belahan dunia manapun.

Negara kapitalis liberalis meminimalisir perannya dalam pengaturan urusan rakyat. Karena senyatanya, kendali untuk mengatur urusan rakyat bukan berada di tangan penguasa, melainkan pengusaha. Aturan yang dibuat dalam sistem demokrasi merupakan hasil kompromi antara kepentingan penguasa dan pengusaha. Alhasil kesejahteraan rakyat jauh panggang dari api, karena penguasa tidak pernah benar-benar serius mengurusi rakyat. Bahkan sebaliknya, rakyat menjadi objek penderita, dimana rakyat dijadikan sasaran operasi bisnis kapitalis yang serakah. 

Perempuan dan anak dalam paradigma kapitalis liberalis adalah komodifikasi, yaitu perempuan dan anak dijadikan sebagai komoditi bisnis. Maka tak mengherankan bila dalam Negara kapitalis liberalis, eksploitasi perempuan dan anak menjadi hal yang biasa. Kita melihat bagaimana perempuan menjadi objek komoditas dalam iklan berbagai produk fashion, kosmetik, industri pornografi dan lainnya. 

Pernah dalam suatu pertemuan di hadapan politikus Swedia pada April 2014 lalu, Direktur Eksekutif UNFPA (United Nations Fund for Population Activities), Babatunde Osotimehin menyatakan “perempuan dan gadis-gadis itu bukan komoditas dan harus diperlakukan sebagai manusia”. Pernyatan Babatune tersebut menggambarkan betapa rusaknya kehidupan kapitalisme yang tidak memanusiakan manusia terutama perempuan dan anak. 

Perempuan dan anak dijadikan komoditi bisnis dalam rangka mengeruk keuntungan materi oleh para kapitalis yang rakus. Terlebih di era pasar bebas ini, mereka dimanfaatkan laksana benda-benda mati lainnya. Kaum perempuan dijadikan alat, tidak hanya sebagai tenaga marketing namun juga dijadikan pajangan dalam iklan yang mengeksploitasi feminitasnya, meski barang dan jasa yang mereka tawarkan tidak ada hubungannya dengan dunia perempuan.

Ide liberal yang menguasai benak industrialis kapitalis telah menjadikan kaum perempuan sebagai korban. Kaum perempuan dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis tanpa memandang halal haram (menghalalkan segala cara). Kapitalis tidak pernah peduli dengan kerusakan yang ditimbulkannya. Bahkan kian hari kerusakan demi kerusakan tetap dibiarkan dan dipelihara. Bayangkan, bisnis haram industri film porno di Amerika Serikat menghasilkan keuntungan yang mencengangkan, mencapai nilai USD 14 miliar atau setara dengan Rp. 174,9 triliun. Angka itu akan terus meningkat tanpa pernah peduli akibat buruknya.

Barat yang selama ini sangat mudah menuduh Islam sebagai pelaku kekerasan, justru menunjukkan realitas kebalikan. Barat lebih kejam dari yang mereka tuduhkan. Masyarakat Barat terbukti mudah melakukan kekerasan, juga tidak sanggup memberikan perlindungan, keamanan kepada kaum perempuan dan anak-anak. 

Tempat yang paling berbahaya bagi perempuan di Eropa adalah Swedia. Di negeri itu, perkosaan terhadap seorang perempuan terjadi setiap dua detik. Sementara di Amerika Serikat, ada sekitar 293 ribu kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan setiap tahunnya. 

Kekerasan seksual pada anak di Inggris pada tahun 2012-2013 tercatat 18 ribu kasus. Sementara data dari dalam negeri, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menghimpun data sekitar 171 kasus tahun 2010, pada tahun 2011 meningkat menjadi  2.178 kasus, tahun 2012 terjadi 3.512 kasus, tahun 2013 sejumlah 4.311 kasus, tahun 2014 sebanyak 5.066 kasus. Data terakhir sampai Agustus 2015 terdapat 6.006 kasus. 

Betapa berbahayanya hidup di negeri ini serta di negeri lainnya, dimana keamanan menjadi sesuatu yang sangat mahal dan sulit didapatkan. Beratnya kasus kekerasan seksual anak di negeri ini dikatakan segawat dengan kasus korupsi, terorisme dan tindak pidana perdagangan orang. 

Komnas perempuan mengklaim bahwa tiap 2 jam sekali di Indonesia terjadi kekerasan seksual pada 3 orang perempuan. Semua ini terjadi di negeri yang telah menerapkan sistem pemerintahan yang kapitalistik sekuler. Sistem ini memperlakukan perempuan dan anak sebagai objek kapitalisasi.

Terlebih saat ini perempuan dijadikan tumbal ekonomi kapitalisme. Mereka dituntut untuk bisa menyelamatkan ekonomi keluarga. Kaum perempuan digiring untuk bekerja agar bisa menghasilkan materi. Alhasil banyak kaum ibu yang meninggalkan peran mereka di ranah domestik sebagai ibu dan manager rumah tangga. Akibatnya anak-anak dan keluarga terlantar. 

Kaum perempuan juga pada akhirnya banyak melanggar hukum syariah ketika memilih mengejar karir. Ketika bekerja, interaksi perempuan dan laki-laki tidak terjaga, melanggar hukum tentang pakaian, tabarruj, dan lain-lain.

Ideologi kapitalisme tidak bisa menjaga fitrah kaum perempuan sebagai ibu dan penjaga generasi dan peradaban. Kapitalisme telah membuat anak-anak kehilangan hak dasarnya, bahkan mereka menjadi korban kekerasan. Negara Kapitalis Liberalis tak mampu menjadi perisai yang hakiki bagi perempuan dan anak.

Sudah saatnya lepas dari belenggu kapitalisme yang menyengsarakan. Umat harus memahami bahwa hanya Islam yang akan menjamin perlindungan bagi perempuan dan anak. Saatnya kita mengambil Islam sebagai satu-satunya aturan yang diterapkan dalam seluruh kancah kehidupan. 

Sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah akan membebaskan umat manusia dari belenggu keterpurukan. Khilafah akan menjadi perisai yang hakiki bagi perempuan dan anak. Khilafah akan menjamin keamanan sehingga kaum perempuan dan anak-anak akan hidup nyaman dan terlindungi. Wa allahu ‘alam. [Lilis Holisah, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia] [MM]

Belum ada Komentar untuk "Tak Ada Perisai bagi Perempuan dan Anak dalam Negara Kapitalis Liberalis"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel