Refleksi Hari Ibu ; Ibu Lindungilah Buah Hatimu


Dari sebuah forum dalam rangka menyambut hari Ibu di bulan Desember, Kajian Muslimah Driyorejo (KMD), Gresik, Jawa Timur, menggelar talk show bertema “Melindungi Anak dari Kekerasan”. Acara yang diselenggarakan pada hari kamis tanggal 3 desember 2015 di pagi hari yang cerah, dihadiri lima puluhan peserta dari kalangan kaum hawa ini, mengundang dua nara sumber pemerhati sosial yang konsen pada berbagai kasus kekerasan anak.

Acara kajian itu diawali dengan penyampaian pemikiran masing-masing narasumber dilanjutkan kemudian dengan tanya jawab. Nara sumber pertama, Yeni Kamilah, praktisi pendidikan Home Schoolling Khoiru Ummah Menganti Gresik, berpendapat bahwa banyak kasus kekerasan yang dilakukan orang tua kepada anaknya, akibat kurang sabarnya orang tua membangun komunikasi, menuntun, memfasilitasi, mengarahkan energi dan kebutuhan anak untuk aktualisasi diri. Sehingga keinginan anak dan orang tua jarang nyambung, hingga berakhir dengan tindak kekerasan dari orang tua, baik lisan bahkan sampai tindakan. 

Sementara itu narasumber yang kedua, Ainin Nadziroh, pengasuh kajian Bengkel Keluarga Samara (BKS) Driyorejo, banyak menyinggung beragam kasus kekerasan orang tua yang disebabkan oleh tingkat pengetahuannya terhadap hukum islam seputar pendidikan anak. Sehingga memicu tindakan yang tidak sesuai dengan syari’at. Diperparah lagi dengan masifnya kampanye “Islam Moderat” alias Islam Liberal, yang membuat banyak kaum muslimin takut (phobia) dengan Islam yang memuat ajaran syari’at, dakwah, khilafah dan jihad. Akibatnya, banyak bermunculan berbagai kasus keluarga yang semakin ruwet terutama kekerasan pada anak, karena rendahnya tingkat pemahaman terhadap Islam secara menyeluruh.

Sembari memberikan waktu untuk sharing, Ririn Ummi Hanif sebagai moderator menegaskan bahwa fenomena kekerasan pada anak, tidak hanya berita yang faktanya jauh di mata. Tapi ini adalah kasus umum yang berada di sekeliling kita. Terbukti beberapa penuturan dari peserta antara lain : Pertama, dari Putri (ibu rumah tangga), yang mendapati seorang anak yang disiksa neneknya karena alasan ekonomi. Kedua, Tarmini, seorang pengajar TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an), yang sering melihat  adanya tindakan kekerasan karena dipicu faktor bandelnya anak. Dan tidak berani menegur karena menganggap itu urusan pribadi. 

Miris.  Di tengah kehidupan dunia yang katanya semakin modern, beradab dan demokratis, kejahatan terhadap anak malah semakin meningkat.  Padahal, berbagai hasil penelitian menyatakan, anak yang menjadi korban kekerasan di masa dewasanya berpotensi besar untuk menjadi pelaku kekerasan. Artinya, bila saat ini korban semakin banyak, kelak pelaku juga akan semakin banyak, sehingga korban berikutnya semakin banyak, begitupun pelaku potensialnya.  Terus seperti itu, ibarat lingkaran setan.  Tanpa ada upaya untuk memutusnya. Pertanyaannya adalah bagaimana wajah masa depan bangsa yang ditentukan oleh generasi anak-anak kita ?

Dalam diskusi, narasumber berusaha menyampaikan analisis faktor penyebab maraknya kekerasan terhadap anak diantaranya :

Internal : kurangnya pemahaman tentang esensi berkeluarga bagi calon orang tua. sehingga sering terjadi disfungsi keluarga,  yakni peran orang tua tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Jarang ditemukan peran ayah sebagai pemimpin keluarga dan peran ibu sebagai sosok yang membimbing dan menyayangi sepenuhnya karena kurang memahami hakekat keluarga. Bahkan terdapat pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga. Orang tua menganggap bahwa anak adalah seseorang yang tidak tahu apa-apa. Dengan demikian pola asuh apapun berhak dilakukan oleh orang tua.

Eksternal : Sistem kapitalis yang diterapkan di negeri ini menyebabkan kemiskinan yang terstuktur. Karena dalam sistem ini, akses terhadap sumberdaya hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki modal.  Sedangkan orang yang tidak atau hanya sedikit memiliki modal, menjadi semakin miskin.  Kesenjangan semakin lebar antara yang miskin dan yang kaya.  Kondisi ini tidak jarang menciptakan stress di kalangan orangtua, yang kemudian melampiaskan kepada anak-anak dalam bentuk kekerasan. Sistem ekonomi kapitalis juga menyebabkan tidak disaringnya tayangan – tayangan yang ada televisi maupun media-media lainnya yang tersebar dilingkungan masyarakat. Para pemilik stasiun TV hanya mempertimbangkan ratting, tanpa mempertimbangkan dampak dari sebuah acara. Yang sangat mengejutkan ternyata 62 % tayangan televisi maupun media lainnya telah membangun dan menciptakan prilaku kekerasan (Tempo, 2006).

Sehingga untuk bisa terlepas dari lingkaran setan kekerasan pada anak, paling tidak dua faktor itu harus dituntaskan. Faktor internal, tentang bekal berkeluarga, pemahaman mengenai hakekat keluarga mutlak diketahui oleh pemuda maupun pemudi yang akan menikah. Islam adalah agama yang sempurna. yang memiliki aturan tidak hanya ibadah semata. Islam memiliki aturan bagaimana membangun sebuah keluarga. Diantaranya bagaimana Islam menganjurkan para ibu menyusui bayinya 2 tahun.  Untuk menyempurnakan penyusuan ini, ibu dibolehkan tidak berpuasa di bulan Ramadan.  Disisi lain, ayah diperintahkan untuk mencukupi nafkah ibu yang menyusui, bahkan bila pun ibu dicerai saat menyusui, ayah wajib membayar upah penyusuan (QS. Al Baqarah : 234).  Ini bertujuan agar ibu tidak perlu bekerja saat menyusui sehingga mengganggu hak anak mendapat penyusuan yang sempurna. Begitu pula Islam memerintahkan ayah menanggung nafkah anak, sekalipun anak diasuh oleh ibunya bila terjadi perceraian.  Ini memastikan anak mendapatkan kasih sayang, pengasuhan dan pendidikan dari orang yang paling tepat secara sempurna.

Islam juga melarang orangtua menyakiti anak saat mendidik mereka.  Kebolehan memukul anak hanya setelah anak berusia 10 tahun saat tidak mau diperintahkan untuk shalat.  Itupun hanya dengan pukulan ringan yang tidak berbekas, semata-mata bertujuan memberikan pendidikan, bukan menghukum apalagi pukulan penuh emosi yang menyakiti anak.

Adapun faktor kedua, secara sistem, penerapan Islam secara sempurna akan menjamin penghapusan tindak kekerasan terhadap anak. Dalam masalah ekonomi, Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah untuk keluarganya.  Semua sumberdaya alam strategis adalah milik umat yang dikelola negara.  Negara berkewajiban mendistribusikan seluruh hasil kekayaan negara untuk kesejahteraan warganegara, baik untuk mencukupi kebutuhan pokok, kesehatan, maupun pendidikan.  Dengan jaminan seperti ini, maka tekanan ekonomi yang menjadi salah satu faktor pemicu kekerasan terhadap anak dapat dihilangkan.

Mengenai media massa, islam membebaskannya menyebarkan berita.  Tetapi mereka terikat dengan kewajiban untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat, menjaga aqidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Dibutuhkan penerapan islam secara utuh, tidak parsial. Penerapan hukum secara utuh ini akan menyelesaikan masalah kekerasan terhadap anak secara tuntas.  Anak-anak dapat tumbuh dengan aman, menjadi calon-calon pemimpin dambaan peradaban. Wallahu a’lam bis showab. [Ummu Hanif (Pemerhati Ibu dan Anak)] [MM]

Belum ada Komentar untuk "Refleksi Hari Ibu ; Ibu Lindungilah Buah Hatimu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel