Menyatakan Jima’ di Malam Jum’at Sebagai “Sunnah Rasul”, SALAHKAH ?


Ada pertanyaanya seperti ini :

1. Saya sering mendengar dari kebanyakan orang yang mengatakan bahwa hubungan intim pada malam Jumat adalah sunah Nabi. Bahkan ada yang menghubungkan dengan keutamaan seperti membunuh kaum Yahudi. Apakah benar adanya?

2. Kalau itu benar adanya, apakah aktivitas tsb di malam Jum’at atau pagi jum’at?

Dijawab oleh Ust. Muh. Taufiq NT berikut ini :

1) Kalau hubungan intim malam Jum’at memang ada hadits yang digunakan sebagai dalil untuk menyunnahkannya. Misalnya dari Aus bin Abi Aus radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَغَسَّلَ، وَغَدَا وَابْتَكَرَ، وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الْإِمَامِ، وَأَنْصَتَ وَلَمْ يَلْغُ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ
“Barang siapa yang mandi pada hari Jumat dan memandikan, dia berangkat pagi-pagi dan mendapatkan awal khutbah, dia berjalan dan tidak berkendaraan, dia mendekat ke imam, diam, serta berkonsentrasi mendengarkan khotbah maka setiap langkah kakinya dinilai sebagaimana pahala amalnya setahun.” (H.R. An-Nasa’i)

Sebagian ulama mengartikan kata “memandikan” maksudnya ‘menggauli istri’, karena ketika seorang suami melakukan hubungan intim dengan istri, berarti, dia “memandikan” istrinya/ menjadikan istrinya wajib mandi.

Dalam Hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah disebutkan:

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dengan mandi junub kemudian dia pergi ke masjid pada awal waktu, maka dia mendapat ganjaran seperti pahala berkurban satu ekor unta. Barangsiapa berangkat ke masjid pada saat yang kedua, maka dia mendapat ganjaran seperti pahala berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang berangkat masjid pada saat yang ketiga, maka dia mendapat ganjaran seperti pahala berkurban seekor kambing jantan. Barangsiapa yang berangkat ke masjid pada saat yang keempat, maka dia mendapat ganjaran seperti pahala berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang berangkat ke masjid pada saat yang kelima, maka dia mendapat ganjaran seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah datang (untuk menyampaikan khuthah) maka para malaikat juga turut hadir untuk mendengarkan khutbah.”

Penjelasan hadits tsb dalam kitab Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud juz 2 hal 11:

وَاخْتَلَفُوا فِي مَعْنَى غُسْلِ الْجَنَابَةِ فَقَالَ قَوْمٌ إِنَّهُ حَقِيقَةٌ حَتَّى يُسْتَحَبَّ أَنْ يُوَاقِعَ زَوْجَتَهُ لِيَكُونَ أَغَضَّ لِبَصَرِهِ وَأَسْكَنَ لِنَفْسِهِ وَلْيَغْتَسِلْ فِيهِ مِنَ الْجَنَابَةِ… وقد حكاه بن قُدَامَةَ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ وَثَبَتَ أَيْضًا عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ التَّابِعِينَ وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ إِنَّهُ أَنْسَبُ الْأَقْوَالِ
Dan mereka (para ‘ulama) berbeda pendapat tentang makna mandi junub (dalam hadits ini), maka sebagian mengatakan bahwa itu maknanya adalah makna haqiqi, sehingga disukai untuk menggauli istrinya (pada hari Jum’at) agar menjadikan dia lebih bisa menjaga pandangan dan lebih menentramkan hati (yakni saat berjalan ke masjid dan saat beribadah) dan kemudian dia mandi junub karenanya … dan sesungguhnya Ibnu Qudamah menceritakan yang demikian ini dari Imam Ahmad dan juga ditetapkan riwayat ini dari sekelompok tabi’in, dan berkata Imam al-Qurthubi, “sesungguhnya dia adalah perkataan yang lebih tepat.”[1]

2) Adapun riwayat: “Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.” mohon ma’af saya tidak berhasil menelusurinya.

3) Adapun apakah dilakukan malam Jum’at atau pagi Jum’at, secara khusus kami belum mendapatkan keterangan, hanya saja dalam hadits tsb dikatakan yawm al jum’ah, yang berarti hari Jum’at, dan perhitungan hari dalam Islam itu sejak matahari terbenam, sehingga baik “malam Jum’at” maupun “pagi Jum’at” itu masih terkategori “hari Jum’at”, namun dalam riwayat itu anjurannya sebelum berangkat ke masjid.

Jadi hubungan suami istri pada malam Jum’at itu memang ada anjurannya, hanya saja sependek pengetahuan kami kalau dikatakan sama seperti membunuh seratus Yahudi kami tidak tahu, kalaupun ada riwayat shahih tentang hal itu, bukan berarti Ibadah malam Jum’at hanya ‘itu’ saja, sehingga ketika diajak pengajian tidak mau dg alasan ini, atau lebih parah ketika ada perintah perang justru beralasan “saya perangnya lewat istri saja”.     Allahu A’lam [MM]

-----------oo----------

[1] Ada juga hadits yang diriwayatkan oleh Imam al Baihaqi dalam Syu’abul Imam (4/409) dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw berkata:

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يُجَامِعَ أَهْلَهُ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ فَإِنَّ لَهُ أَجْرَيْنِ أَجْرُ غُسْلِهِ، وَأَجْرُ غُسْلِ امْرَأَتِهِ

Tidak mampukah kalian menyetubuhi istri kalian pada setiap hari Jum’at ?, Karena sesungguhnya menyetubuhi saat itu mendapat dua pahala: pahala dia mandi (mandi junub sekaligus mandi Jum’at), dan pahala “memandikan/menyebabkan” istrinya mandi. Imam al Baihaqi meragukan riwayat tsb karena ada perowi bernama Baqiyyah yang memang harus diteliti lagi. Beliau kemudian menyatakan:

فَإِنْ صَحَّ فَفِيهِ الْمَعْنَى الْمَنْقُولُ فِي الْخَبَرِ، وَأَيْضًا فَإِنَّهُ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ أَغَضَّ لِلْبَصَرِ حَالَ الرَّوَاحِ إِلَى الْجُمُعَةِ فَفِي الْقَدِيمِ كُنَّ النِّسَاءُ يَحْضُرْنَ الْجُمُعَةَ وَاللهُ أَعْلَمُ

Belum ada Komentar untuk "Menyatakan Jima’ di Malam Jum’at Sebagai “Sunnah Rasul”, SALAHKAH ?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel