Meluruskan Pemahaman Tentang Rezeki


Rezeki itu tidak identik dengan pemilikan, sebab rezeki adalah pemberian. Rezeki dapat berupa rezeki halal ataupun haram; tetapi kedua duanya dinamakan rezeki juga. Semuanya adalah harta yang diberikan Allah SWT kepada manusia tatkala mereka memeras tenaganya dalam mengusahakan suatu pekerjaan yang biasanya dapat mendatangkan rezeki ataupun sebaliknya. Banyak orang yang menyangka bahwa mereka sendirilah yang memberikan rezeki untuk dirinya. Padahal itu adalah persangkaan yang keliru dan harus diluruskan.

Sebagai contoh seorang pegawai yang menerima gaji tertentu karena telah menguras tenaganya, dia menyangka bahwa dialah yang mendatangkan rezeki kepada dirinya sendiri. Begitupula ketika ia mendapatkan kenaikan gaji karena bekerja lebih keras atau karena memang berusaha memperoleh kenaikan gaji, dia pun menyangka bahwa dirinyalah yang mendatangkan rezeki itu (berupa kenaikan gaji). Sehingga kebanyakan orang beranggapan bahwa karena hasil usahanyalah yang menyebabkan datangnya rezeki.

Padahal, bagi seorang muslim harus meyakini dengan pasti bahwasanya rezeki itu berasal dari sisi Allah SWT, bukan berasal dari manusia. Dan bahwasanya setiap keadaan (usaha) yang biasanya mendatangkan rezeki tidak lain adalah kondisi tertentu yang berpeluang menghasilkan rezeki, bukan penyebab datangnya rezki. Karena pada kenyataannya kadang usaha sudah dimaksimalkan akan tetapi rezeki tidak diperoleh jua. Olehnya itu rezeki semata-mata datangnya dari Allah SWT. Bukan yang lain, mari kita tengok beberapa ayat Al-qur’an yang menjelaskan perihal rezki ; (QS Al Maidah: 88), (QS Ar Ruum: 40), (QS Yaasiin: 47), (QS Ali Imran: 37), (QS Al Ankabuut: 60), (QS Al An'aam: 151) dan masih banyak ayat-ayat serupa yang menerangkan perihal masalah rezeki ini.

Meskipun demikian Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk berupaya melakukan berbagai macam pekerjaan (usaha), setelah diberikan oleh Allah SWT pada diri mereka kesanggupan untuk memilih dan melaksanakan cara/usaha yang biasanya mendatangkan rezeki. Merekalah yang harus mengusahakan segala bentuk cara/usaha yang dapat menghasilkan rezeki dengan ikhtiar mereka, akan tetapi harus dipahami bukan mereka yang mendatangkan rezeki, sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat-ayat diatas. Bahkan hanya Allahlah yang memberikan rezeki kepada mereka dalam berbagai keadaan/cara, tanpa memandang apakah rezeki itu halal ataukah haram, dan tanpa melihat apakah cara/usaha itu termasuk suatu hal yang dibolehkan, diharamkan atau diwajibkan oleh Allah. Begitu juga tanpa memandang apakah dengan usaha/cara itu dapat menghasilkan rezeki atau tidak.

Walaupun begitu Islam telah menjelaskan tata cara bagi seorang muslim mengusahakan usaha/cara yang dapat mendatangkan rezeki yang tentunya diperbolehkan alias halal dan berkah di sisi Allah SWT. Dalam hal ini Islam menjelaskan sebab-sebab pemilikan, bukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan rezeki dan membatasi pemilikan dengan sebab-sebab yang telah ditentukan untuk memperoleh rezeki. Yakni rezeki yang halal dan diberkahi Allah SWT. [MM]

Belum ada Komentar untuk "Meluruskan Pemahaman Tentang Rezeki"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel