Ketika Peran Ibu Diperangi


Wahai ibu, aku sungguh takut hidup tanpa kasih sayangmu. Aku sungguh takut bila engkau (tak) mendidikku, aku (tak) bisa bertemu dengan sang pencipta. Aku takut bila engkau (tak) mengarahkanku, aku tak bisa bertemu rasul tercinta. Dan aku takut, karena aku engkau abaikan, engkau (tak) selamat dari siksa.

Sosok ibu adalah sosok yang sangat penting. Karena ibu adalah dahan pijakan anak untuk meraih pucuk kehidupan. Bila dahan itu patah, anak akan jatuh bersamanya dan tidak akan pernah sampai di puncak. Tidak ada yang dapat mengingkari betapa pentingnya peran sosok yang kita sebut IBU. Banyak orang besar yang tampil di kancah dunia karena peran seorang ibu. Ibu Imam Syafi’i mewakili perjuangan ibu dari tokoh-tokoh agama. Suaminya meninggal sebelum Imam Syafi’i lahir. Ia membesarkan Syafi’i sendirian. Memotivasinya untuk belajar. Usia 7 tahun Syafi’i sudah hafal Alquran. Guru-guru ia datangkan untuk mengajar Syafi’i, biarpun untuk itu ia harus bekerja keras untuk biaya belajar anaknya. Tetapi, ibu masa kini dihadapkan tantangan yang begitu dasyat dalam ia menjalankan perannya sebagi seorang ibu. Sosok ibu seperti yang kita harapkan, bukanlah hal yang mudah kita temui saat ini. Zaman berubah, permasalahan dalam mendidik anak berubah, tantangan semakin berat. Namun harapan untuk menemukan sosok ibu teladan tentu tidak memudar.

Pagi itu, seorang perempuan berjalan gontai menyusuri lorong kecil yang basah dan lembab. Matanya sayu menyiratkan rasa lelah yang sangat. Perempuan itu berusaha menahan kantuk karena semalaman terjaga, yaitu tuntutan pekerjaan shif malam. Dan kini saat pulang, ia harus bersiap mengerjakan peran lainnya di rumah, yaitu sebagai ibu dan istri. Betapa beratnya beban hidup yang ia tanggung di zaman kapitalis seperti sekarang ini. Hingga iapun harus ikut membanting tulang demi untuk menyambung hidup dirinya dan keluarganya.

Tantangan Ibu Masa Kini

Ibu masa kini memiliki tanggung jawab berat. Peran ganda yang tersandang di pundaknya, antara bekerja dan mendidik anak di rumah, membuat para ibu tertatih menjalani hidupnya. Konsep pemberdayaan ibu yang digulirkan ternyata mengundang berbagai permasalahan baru. Upaya untuk meningkatkan peluang kerja bagi ibu misalnya. Tujuan dari konsep ini adalah memberdayakan perempuan secara ekonomi sehingga membuat perempuan lebih mandiri. Namun pada faktanya peran ibu yang optimal di karier, seringkali tidak diikuti peran yang optimal di rumah. Dengan banyaknya ibu yang berkiprah di luar rumah mencari nafkah, peluang terjadinya disharmonisasi keluarga lebih terbuka. Ibu yang lelah pulang bekerja, lebih mudah mengalami gangguan emosi. Anak seringkali menjadi sasaran pelampiasan. anak juga hanya mendapat waktu sisa, sehingga komunikasi seringkali terkendala. Anak-anak yang terabaikan, mendekatkan mereka pada kerusakan moral, pemakaian narkoba, dan pergaulan bebas. Di Bogor, angka ketergantungan terhadap narkoba sudah mencapai 2%, padahal ambang batas yang ditetapkan untuk nasional adalah 1,2% (Pusat Penelitian UI). Bahkan beberapa waktu lalu sebuah stasiun TV melansir penelitian di Jakarta, 800 siswa SD terlibat narkoba!
Penelitian seks bebas di kota-kota besar : Medan, Jakarta, Bandung dan Surabaya menunjukkan angka-angka yang membuat kita terhenyak. Betapa tidak. Survei yang dilakukan pada 450 responden berusia 15-24 tahun, mengatakan bahwa 16% responden berhubungan seks pada usia 13-15 tahun dan 44% berhubungan seks pada usia 16 – 18 tahun (Lembaga Penelitian Synovate, September-Oktober 2004). Hasil survei Perkumpulan keluarga Berencana Indonesia (PKBI), menyatakan pula bahwa sebanyak 85 persen remaja berusia 13-15 tahun mengaku telah berhubungan seks dengan pacar mereka. Penelitian pada 2005 itu dilakukan terhadap 2.488 responden di Tasikmalaya, Cirebon, Singkawang, Palembang, dan Kupang. Sedangkan berdasarkan survey BKKBN 63% remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah berhubungan seks. Sebanyak 21% Di antaranya melakukan aborsi. Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi BKKBN, M Masri Muadz, data itu merupakan hasil survei oleh sebuah lembaga survai yang mengambil sampel di 33 provinsi di Indonesia pada 2008. Dan taukah anda, bahwa Kota Bengkulu adalah nomor satu tertinggi kasus Inces.

Dan jumlah itu akan terus meningkat setiap tahun jika sistem yang diterapkan adalah sistem sekulerisme_kapitalisme. Kerusakan-kerusakan itu akan terus bertambah selama situs-situs media atau tayangan-tayangan (tak) bermutu, iklan-iklan sampah, berita-berita kriminal yang menyesatkan dan juga informasi-informasi murahan masih terus dijejali, karena. Media saat ini hanya menjadi sarana eksploitasi massal. Media hanya menjadi alat untuk memyedot keuntungan yang sangat besar bagi para kapitalis. Media juga menjadi corong untuk menjajakan ide-ide kebebasan yang menjadi jargon sekulerisme kapitalis. Kaum ibu dan anak-anak adalah yang menjadi target empuknya.

Kita jadi bertanya-tanya, ada apakah dengan anak-anak kia? Apa hubungannya dengan ibu? Ya, dulu ibu kita masih banyak punya waktu untuk mendidik kita, mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menunjukkan mana yang salah. Ibaratnya kita masih memiliki perisai yang melindungi kita dari berbagai hal buruk yang terjadi di sekitar kita. Sekarang, anak-anak tidak memiliki perisai itu. Ibu-ibu saat ini lebih banyak yang menghabiskan waktu di luar rumah mencari uang. Atau kalaupun di rumah, ibu-ibu tersibukkan dengan berbagai tayangan televisi seperti sinetron, telenovela dan infotainment. Alih-alih anak dilindungi dari tayangan yang tidak mendidik, (malahan) anak-anak diajak ikut nonton, menghabiskan sebagian besar waktunya di depan televisi. Bukan hal yang mengejutkan lagi bila Direktur Eksekutif PKBI, Inne Silviane menyatakan ternyata sebagian hubungan seks bebas remaja dilakukan di rumah! Entah kemana ibu mereka. Dan taukah anda, bahwa Kota Bengkulu adalah nomor satu tertinggi kasus Inces.

Peran Ibu

Berkembangnya ide feminisme yang begitu pesat beberapa waktu terakhir ini, terasa pengaruhnya terhadap cara pandang masyarakat terhadap peran ibu. Peran ibu dianggap tidak produktif karena tidak menghasilkan materi. Penggiat keadilan dan kesetaraan gender masih getol memperjuangkan hak-hak perempuan. Peran ibu rumah tangga yang mulia, sebagai pengatur rumah tangga dan pendidikan anak-ank terus saja dikritik abis-abisan. Perempuan yang memilih di rumah (tak) henti dicibir sebagai sosok (tak) berdaya.

Padahal, fakta membuktikan bahwa peran ibu dalam pendidikan anak tidaklah tergantikan. Masa-masa 0-6 tahun bagi anak adalah masa keemasan pertumbuhan dan perkembangannya. Pada usia ini, otak anak terbentuk sampai 80 %, kecerdasan dan dasar-dasar kepribadiannya mulai terbentuk. Karena itu, masa ini membutuhkan pendampingan dari sosok yang intens mengikuti pertumbuhan dan perkembangannya, yang mampu memberikan stimulasi optimal dengan penuh kasih sayang.

Pembantu atau pengasuh bayi tentu jauh dari kriteria itu. Tempat Penitipan anak atau kelompok bermain yang diikuti anak juga tidak dapat memberikan stimulasi optimal. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus juga dibutuhkan anak dalam perkembangan kecerdasan emosionalnya. Ketika anak merasa disayang, ia belajar untuk menghargai dirinya, menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan untuk berempati dan berbagi kasih sayang kepada orang lain. Berbeda dengan anak yang kekurangan kasih sayang. Mereka cenderung mengembangkan perasaan negatif, merasa tidak diterima sehingga penghargaan terhadap dirinya sendiri rendah. Anak seperti ini akan cenderung menjadi anak tertutup, rendah diri dan menyimpan potensi gagal dalam kehidupannya. Kasih sayang yang tulus dan berlimpah tentulah datang dari seorang ibu. Pemahaman yang utuh terhadap anak juga tentu datang dari ibu. Bila fungsi ibu terabaikan karena ibu harus keluar rumah, maka adakah fungsi ini akan tergantikan?

Kapitalisme memang telah menyerang fitrah perempuan. Kapitalisme menghilangkan identitas sejati perempuan yang melahirkan anak, ibu, manajer rumah tangga dan pengasuh anak-anak, bergeser dengan makna kesuksesan perempuan yang selalu dihubungkan dengan pekerjaan. Karier mapan, jabatan mentereng dan bergengsi, dengan imbalan gaji berlimpah adalah parameter perempuan yang sukses dan hebat. Lebih parah adalah ibu yang bekerja dan sekaligus tidak mampu mendidik anak. Ibu-ibu semacam ini tidak memiliki target dalam mendidik anak. Anak dibiarkan seperti air mengalir, terserah mau jadi apa nantinya.

Kondisi ibu semacam ini tentu tidak bisa diharapkan dapat melahirkan generasi unggul. Pemerintah seharusnya memiliki kepedulian yang besar dalam masalah ini. Bukankah generasi unggul yang dapat melepaskan bangsa ini dari krisis yang terus membelit? Apakah kita akan bertahan dengan berbagai kerusakan yang melanda bangsa ini? Pepatah bahkan mengatakan bahwa pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berhasil mencetak pemimpin yang lebih baik. Selama ibu masih harus disibukkan dengan mencari nafkah, selama ibu masih tidak memahami pendidikan anak, selama itu pula generasi unggul tidak akan lahir . Bangsa kita akan terus terpuruk, tidak mampu bangkit.

Tugas pemerintah adalah menjamin agar ibu bisa menjalankan peran keibuannya dengan sempurna. Bukan malah mendorong ibu untuk bekerja keluar rumah, bahkan keluar negeri dengan memberikan julukan pahlawan devisa. Itu sama artinya negara ini tengah menjual masa depannya. Tugas negara pula untuk menjamin pendidikan para ibu. Pendidikan dengan kurikulum yang tepat. Agar para ibu tidak hanya menjadikan materi sebagai orientasi hidupnya. Namun sesungguhnya, ibu punya tanggungjawab besar di pundaknya untuk masa depan bangsa. Maka, tidak salah kalau dikatakan perempuan adalah tiang negara. Bila tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara.(**)Penulis : Siti Soleha (Tim media Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia/MHTI DPD I Bengkulu) [MM]

1 Komentar untuk "Ketika Peran Ibu Diperangi"

  1. SEGERA HADIR ROOM TERBARU DAN AVATAR TERBARU UNTUK PARA PECINTA INDOMONOPOLY.COM
    GAME MONOPOLY MENJADI GAME TERBAIK DAN PALING DI MINATI OLEH MASYARAKAT INDONESIA TAHUN 2014.
    CHIP MONOPOLY MENGGUNAKAN UANG ASLI MEMBUAT PERMAINAN MONOPOLY INI SEMAKIN MENARIK
    DENGAN PROSES DEPOSIT DAN WITHDRAW PALING LAMBAT HANYA 2 MENIT (SELAMA BANK ONLINE).
    MINIMAL DEPOSIT 20.000 RUPIAH DAN MINIMAL WITHDRAW 50.000 RUPIAH TERTARIK / BERMINAT ,
    TAPI BINGUNG BAGAIMANA CARA GABUNG DI GAME KAMI?? BISA LANGSUNG HUBUNGI LIVE CHAT KAMI
    SETIA MELAYANI ANDA 24JAM. KEMUDAHAN HANYA BERSAMA KAMI DI INDOMONOPOLY.COM

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel