Ibu Hebat Pencetak Generasi Tangguh


Ibu hebat adalah Ibu yang mempunyai kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah) dan mampu menjalankan peran ibu. Ketika seorang Ibu mempunyai kepribadian Islam, maka ia akan menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan di dalam berfikir dan berbuat. Ia juga memahami potensi dirinya dan mampu mengoptimalkan dalam rangka mencetak anak unggul. Untuk menjadi ibu tangguh juga harus mengetahui dan menguasai konsep pendidikan anak.

Ibu hebat ketika melakukan suatu perbuatan apapun ia akan berfikir terlebih dahulu dengan akal yang sudah dianugerahkan Allah. Dalam perenungannya ia merasa lemah dan serba terbatas, Ia tidak tahu kenapa ada perasaan sayang sama anak dan suaminya? Kenapa ada perasaan benci? Mengapa kita ingin memiliki? Dan banyak pertanyaan yang mengintainya dalam renungannya, yang masih belum terjawab. Memang, tidak hanya ibu yang berpikir seperti itu dan belum tahu jaawabannya, tapi manusia lainpun tidak akan mampu menjawabnya kecuali hanya dugaan-dugaan. 

Berdasar kesadaran akan kelemahan dan serba kurangnya yang ia peroleh dari proses berfikir (proses aqliyyah) itu, maka akan dihasilkan pola pikir Islam, maka ia menyerahkan pengaturan hidupnya kepada hukum dan peraturan Allah. Dimana Allah Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-hambanya. Ia punya keyakinan bahwa tunduk pada aturan produk manusia hanya akan mendatangkan kesengsaraan. Allah berfirman : “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah : 216). Jadi ketika berfikir yang menggunakan akalnya selalu dilandasi dengan aqidah Islam yang dimilikinya, akan terwujudlah aqliyyah Islamiyyah (pola pikir Islam).

Ia akan selalu mencari tahu dengan proses berfikirnya (proses aqliyyah), Apakah perbuatannya dilarang Allah atau tidak. Ia menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini adalah makhluk ciptaan Allah, dan tujuan diciptakannya di bumi ini adalah beribadah kepada Allah yang tercantum dalam alquran surah Azzariyat ayat 56. Ia akan hati-hati dalam menjalani kehidupan ini agar sesuai dengan perintah sang Penciptanya. Ia juga yakin bahwa semua perbuatannya akan dimintai pertanggung jawaban kelak, baik yang ia lakukan sembunyi sembunyi maupun ketika dilihat orang. Semua tidak ada yang lepas dari pengawasan dan penglihatan Allah. Ketika ia berbuat, maka ia akan ingat pada surah Almuddatsir :38, yang artinya :”Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya."

Ibu hebat akan menggunakan akalnya untuk mengamati perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh anaknya. Bagaimana anak makan, minum, berbicara, bagaimana cara mengungkapkan rasa amarahnya, kegembiraannya, ekspresi wajahnya. Ia gunakan akalnya untuk menganalisa potensi yang dimiliki anaknya. Apakah anaknya punya rasa ingin tahu yang besar? Anak mudah menghafal, percaya diri, mudah adaptasi, aktif dan lain-lain. Ia juga berfikir keras tentang apa yang akan dilakukan dengan potensi yang dimiliki anaknya. Dengan akalnya dia juga akan membuat langkah-langkah perbaikan secara sistematis disertai dengan pemilihan cara dan penggunaan sarana yang tepat, sehingga ia tidak malas berfikir, selalu penasaran, banyak bertanya untuk kemajuan pendidikan anaknya.

Ibu yang tangguh ketika memenuhi tuntutan kebutuhan jasmaninya (makan, minum) maupun naluri-nalurinya (memiliki harta, memiliki anak), tak lepas pula ia mengikatkan dengan Aqidah Islam. Dari sini akan lahir apa yang disebut pola sikap Islam (nafsiyyah Islamiyyah) Misalnya dalam memenuhi salah satu naluri melestarikan jenisnya (gharizah nau’), ia mengkaitkan aktifitasnya dalam mendidik anak dengan keyakinanya (aqidahnya). Ia sadar bahwa anak adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggung jawabkan, maka akan melahirkan sikap bahwa ia akan melakukan penjagaan terhadap anak tersebut dan akan mendidiknya sebaik-baiknya sebagai kehendak Sang Pemberi Amanah. Contoh nafsiyyah Islam yang lain adalah Ibu senantiasa berupaya sungguh-sungguh agar kebutuhan anaknya terpenuhi (gizi makan, minum dan lain-lain), ibu selalu menginginkan kehidupan anaknya menjadi sholeh, ingin anaknya memiliki prestasi yang membanggakan, ingin kehidupan anaknya lebih baik dari dirinya, ibu memiliki kasih sayang yang luas.

Proses pengkaitan antara dorongan yang muncul dari kebutuhan jasmani serta naluri ini disebut nafsiyyah Islamiyyah. Ibu yang memiliki pola pikir Islam (Aqliyyah Islam) dan pola sikap Islam (Nafsiyyah Islam) disebut berkepribadian Islam atau bersyakhshiyyah Islam.

Dengan memiliki pola pikir islam dan pola sikap yang islami, maka seorang ibu akan melahirkan anak-anak, generasi-genersi muda yang tangguh dan memiliki nafsiyyah yang islami, yang ketika berbuat senantiasa dikaitkan dengan hukum Allah. Bukti bahwa seorang ibu yang memiliki nafsiyyah islami akan melahirkan generasi yang bernafsiyyah juga adalah Fatimah binti Ubaidillah yaitu ibunda Imam Syafi’i, Imam syafii lahir dari keluarga yang miskin dan dibesarkan oleh seorang ibu, karena ayahnya sudah meninggal. Dengan kemiskinannya tidak menjadikan Fatimah larut dengan kemiskinannya, bahkan Fatimah memiliki orientasi hidup yang lebih mendekatkan diri kepada Allah dan selalu terikat pada hukum-Nya. Fatimah adalah madrasah pertama bagi Imam Syafii, fatimah adalah perempuan hebat, cerdas, dan tegar tak pernah mengeluh. Maka wajar jika Imam syafii adalah seorang yang ahli dalam fiqih dan bidang keilmuan lainnya, karena lahir dari seorang ibu yang hebat dan tangguh. 

Namun, fakta sekarang menunjukan lain. Seorang ibu banyak melahirkan generasi-generasi yang hobi maksiat, generasi hedon, generasi yang individualis, dan generasi yang lebay. Kenapa bisa seperti itu ?, ada 2 faktor yang menyebabkan seperti itu, yaitu : 1) faktor internal, yaitu lahir dari seorang ibu yang tidak memiliki nafsiyyah islam, seorang ibu yang tidak mendidik anaknya sesuai dengan alquran, seorang ibu yang tidak menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. 2) faktor eksternal, yaitu lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap individu anaknya. Jika lingkungan islami maka anakpun akan memiliki nafsiyyah yang islami, namun fakta sekarang menunjukan bahwa lingkungan  jauh dari kata islami, kemaksiatan dimana dan semakin merajalela. Tidak ada aturan pemerintah yang melarang maksiat, maka wajar jika sekarang generasinya bukan generasi yang tangguh karena tidak menjadikan alquran sebagai landasan hidupnya. 

Maka sangat berbeda ibu hebat jaman dulu dengan ibu hebat jaman sekarang. Dulu ibu hebat adalah ibu yang berhasil mendidik generasi nya sesuai dengan alquran dan memiliki nafsiyyah yang islami, sedang sekarang ibu yang hebat adalah ibu yang berhasil menjadikan anaknya sebagai artis terkenal, anak yang menjadi penyanyi internasional, anak-anak yang tidak dibekali dengan nafsiyyah islam. Jadi wajar jika sekarang banyak anak yang durhaka kepada ibu, karena mereka tidak dibekali dengan kepribadian yang islami.

Ibu yang beraqliyyah Islam dia akan memahami konsep Ibu di dalam Islam, bahwa Ibu merupakan pendidik pertama dan utama bagi anaknya, dan ini merupakan kewajibannya yang tidak digantikan oleh siapa pun. Ia juga akan mampu menghukumi fakta didasarkan pada aqidah Islam. Kita akan melihat ibu-ibu yang hebat dengan melahirkan generasi yang tangguh adalah ketika al-quran dijadikan landasan dalam hidupnya, ketika aqidah nya islam, ketika hukum Allah diterapkan. Maka terapkan kembali islam, agar ibu-ibu hebat akan melahirkan generasi-generasi yang tangguh yang memiliki kepribadian islam. Yah, ibu akan menjadi ibu yang hebat, yang memiliki daya juang yang tinggi demi masa depan anak dan ummat manusia secara keseluruhan. Wallah a'lam bi ash-shawab. [Susi Susila] [MM]

Belum ada Komentar untuk "Ibu Hebat Pencetak Generasi Tangguh"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel